Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label Dunia Seks. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Seks. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Juni 2010

Ternyata Masturbasi Tak Bikin Kemandulan, Tapi... ?

Sebagian pria mungkin khawatir tentang frekuensi masturbasi yang terlampau sering dapat mengakibatkan infertilisasi alias kemandulan. Jangan khawatir, masturbasi tak bikin pria mandul, cuma memang ada beberapa gerakan berbahaya yang bisa memicu ejakulasi lambat (terbelakang).

Memang ada beberapa mitos yang menyatakan masturbasi bisa menyebabkan kemandulan karena adanya penurunan jumlah sperma. Tapi pada kenyataannya, masturbasi tidak dapat menyebabkan kemandulan.

Masturbasi hanya menurunkan jumlah sperma dalam jangka pendek, biasanya kurang dari 24 jam. Di hari berikutnya, jumlah sperma akan kembali normal. Kehamilan dapat terjadi setelah penetrasi, bahkan pada pria yang sering masturbasi.

"Sering masturbasi tidak mengurangi sperma dan juga tidak mempengaruhi kemampuan untuk mencapai ereksi," ujar Dr Erik Castle, konsultan Departemen Urologi di Tulane University, New Orleans, seperti dilansir dari MayoClinic, Selasa (22/6/2010).

Menurut Dr Castle, yang justru membuat pria mandul adalah kalau tidak mengalami orgasme (ejakulasi) selama beberapa hari atau lebih. Hal ini karena dapat mengurangi jumlah sperma dengan bentuk normal (morfologi) dan kemampuan untuk bergerak (motilitas).

Morfologi normal dan motilitas mempengaruhi kemampuan untuk mencapai dan membuahi telur pada wanita. Itulah sebabnya, beberapa kali berhubungan seksual dalam seminggu akan memaksimalkan kesempatan untuk hamil, walaupun pria tersebut sering masturbasi.

Meski masturbasi tidak menimbulkan dampak negatif, tapi para ahli memperingatkan bahwa beberapa bentuk masturbasi bisa berbahaya.

Gerakan yang menggosok sangat cepat atau dengan tekanan berat dan gesekan, dapat memperbesar risiko ejakulasi terbelakang (retarded ejaculation), yaitu jenis disfungsi seksual yang tidak dapat merasakan klimaks atau orgasme, bahkan melalui hubungan seks dengan pasangan sekalipun.

Walaupun masturbasi tidak bisa mempengaruhi jumlah sperma, tapi ada beberapa faktor lain yang bisa menurunkan jumlah sperma seperti dilansir dari Ehow, yaitu:

1. Stres
2. Merokok
3. Obat-obatan terlarang (narkoba)
4. Kurang gizi (malnutrisi)
5. Obesitas
6. Cedera karena sering naik sepeda
7. Mengenakan pakaian dalam atau pakaian renang yang terlalu ketat.[DetikHealth]

Sabtu, 19 Juni 2010

Kenali Tanda atau Ciri HIV/AIDS : Bercak Putih di Mulut ?

Meski sosialisasi mengenai HIV/AIDS telah gencar dilakukan di berbagai negara oleh berbagai pihak, jumlah penderitanya tetap mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Informasi mengenai penyakit ini sangat mudah didapat, namun sepertinya penyebaran penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia ini masih sulit dibendung.

Di dalam rongga mulut terdapat berjuta mikroorganisme yang merupakan flora normal mulut. HIV yang menyerang sistem imun tubuh membuat para penderita rentan terhadap infeksi oportunistik karena bakteri, jamur dan virus menjadi patogen. Akibatnya, masalah gigi dan mulut seperti gusi berdarah, lesi herpes, dan infeksi jamur dan kandida seringkali ditemukan pada penderita HIV/AIDS, bahkan menjadi tanda awal infeksi HIV.

Disinilah dokter gigi berperan dalam mendeteksi HIV/AIDS, boleh jadi sebelum si pasien menyadari bahwa ia terinfeksi, sebab 90% penderita HIV/AIDS mengalami setidaknya satu masalah gigi dan mulut. Di samping itu dokter gigi juga ditantang untuk tetap memberikan perawatan gigi dan mulut yang dibutuhkan pasien, sembari mencegah penularan penyakit ke pasien lain maupun ke dokter gigi itu sendiri.

Banyak orang yang khawatir bahwa HIV dapat ditransmisikan selama perawatan gigi, meski resiko penularan melalui saliva (liur) sangat kecil. Kekhawatiran ini tidak luput dirasakan oleh dokter gigi karena banyaknya tindakan perawatan gigi yang beresiko untuk penularan melalui darah. Namun sejatinya penyedia jasa kesehatan tak terkecuali dokter gigi tidak boleh menolak pasien dengan HIV yang membutuhkan perawatan.

Tindakan pencegahan yang sifatnya universal harus diterapkan untuk mencegah penyebaran penyakit tidak saja HIV/AIDS tapi juga penyakit infeksius lain. Dokter gigi dan perawat gigi harus mengenakan sarung tangan medis, masker, pelindung mata selama merawat pasien. Selain itu seluruh dental instrument yang digunakan disterilisasi setelah merawat setiap pasien, dan barang yang tidak dapat disterilisasi harus sekali pakai dan dibuang di kontainer khusus. Oleh karena itulah pemilahan sampah medis dan non medis sangat penting dilakukan, dan sampah medis harus ditangani dengan benar sesuai peraturan yang mengatur limbah B3.

Kenali Manifestasi HIV/AIDS di rongga mulut
Infeksi jamur kandida (candidiasis) adalah salah satu tanda yang paling awal dan paling umum ditemukan pada penderita HIV/AIDS, pada suatu penelitian 88% penderita HIV/AIDS mengalami kandidiasis oral. Secara klinis tampak sebagai bercak putih atau kombinasi bercak putih dan kemerahan yang dapat terjadi di bagian manapun di rongga mulut. Terkadang bercak ini mudah berdarah dan terdapat daerah kemerahan di bawah bercak putih, disertai rasa sakit dan rasa seperti terbakar.

Penderita HIV/AIDS umumnya mengalami kondisi mulut kering (dry mouth/xerostomia) karena obat-obatan yang dikonsumsi maupun karena penyakitnya itu sendiri. Dikombinasi dengan penurunan sistem imun, mulut yang kering membuat penderita lebih mudah untuk mengalami karies dan penyakit periodontal.

Penyakit periodontal sebetulnya dapat terjadi pada siapa saja,namun khusus pada pasien dengan gangguan sistem imun seperti HIV/AIDS, memiliki tampilan yang khas. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri, pada gusi kondisi ini dahulu disebut HIV-gingivitis dan kini disebut linear gingival erythema (LGE), terlihat sebagai lesi merah seperti pita di daerah gusi. LGE dapat terasa sakit dan mudah berdarah, dan dapat berkembang menjadi penyakit periodontal yang khas yaitu necrotizing ulcerative periodontitis (NUP) yang dahulu disebut HIV-periodontitis, di mana tulang dan jaringan lunak mengalami kerusakan yang sangat cepat dan progresif. Umumnya berujung dengan kehilangan gigi, dan seringkali disertai rasa sakit yang berat dan mudah berdarah.

Kondisi imun yang melemah juga membuka kesempatan yang lebih lebar bagi infeksi virus, yang paling umum adalah virus herpes dan human Papillomavirus (HPV)biasanya menyerang bibir dan sisi lidah. Selain itu juga dapat terjadi lesi oral yang mengarah kepada keganasan, yang paling sering adalah Kaposi’s sarcoma meski kejadiannya semakin menurun setelah adanya terapi antiretroviral.[JakartaPress.com/Oleh : drg. Martha Mozartha]

Kamis, 17 Juni 2010

Mengetahui Penyakit Menular Seksual dengan Deteksi Wajah Lawan !

TAHUKAH Anda, sejumlah penyakit menular seksual ternyata dapat terdeteksi di wajah, baik pada lelaki maupun perempuan. Simak penyakit menular seksual apa saja yang dapat diungkapkan wajah, dan bagaimana cara mendeteksinya.

Sipilis
Penderita sipilis dapat dideteksi dari luka terbuka yang lebar di bibir dan mulutnya. Sipilis disebabkan oleh infeksi bakteri Treponema pallidum dan disebarkan melalui kontak seksual langsung (termasuk oral) dengan individu yang terinfeksi lesi (luka) sipilis menular tersebut.

Luka biasanya muncul sekitar tiga sampai enam minggu setelah hubungan seks, di area terjadinya kontak seksual tersebut--biasanya alat kelamin--setelah fase yang disebut dengan sipilis primer. Gejala sipilis sekunder muncul sekitar empat sampai 10 minggu setelah munculnya lesi primer, jika infeksi dibiarkan tanpa diobati. Pengobatan penyakit ini dapat dilakukan menggunakan antibiotik.

Sipilis primer dan sipilis sekunder dapat muncul di wajah, biasanya karena melakukan hubungan seks oral dengan seseorang yang terinfeksi lesi genital. Sipilis primer di wajah biasanya muncul di bibir sebagai luka besar yang terbuka. Luka juga mungkin timbul di lidah atau bagian dalam
mulut.

Sementara itu, sipilis sekunder dapat memiliki berbagai gejala. Benjolan yang terlihat di dan sekitar mulut, ruam kemerahan yang muncul di sekujur tubuh, atau gugurnya rambut yang tidak normal (alopecia), merupakan sejumlah gejalanya. Gejala sekunder ini dapat ditimbulkan akibat infeksi hubungan seks genital, bukan hanya oral.

Herpes genital
Penyakit ini dapat dideteksi dari luka dingin di sekitar mulut. Herpes genital disebabkan dua jenis virus herpes, yakni HSV-1 dan HSV-2 (jangan, keliru membedakannya dengan human papillomavirus, atau HPV, yang menyebabkan kutil pada kelamin).

Seperti dikutip situs askmen.com, sebanyak 45 juta orang Amerika berusia 12 tahun atau lebih tua menderita herpes genital, dan sebanyak 80-90 persen di antaranya gagal mengenali gejala-gejala atau tidak memperlihatkan gejala-gejalanya sama sekali.

Herpes dapat menyebar melalui hubungan seksual, baik secara langsung (termasuk oral) dan melalui air liur (berciuman) dengan individu yang terinfeksi. Virus ini bisa menyebar bahkan ketika tidak ada gejala yang terlihat, meskipun penularan lebih mungkin terjadi bila ada gejalanya.

HSV-1 biasanya menyebabkan luka di mulut, tetapi bisa juga menyebabkan herpes genital. Ini berarti, seseorang dapat tertular herpes genital dari seks oral yang diberikan seseorang dengan luka dingin di mulutnya (meskipun tidak umum terjadi). Sementara itu, HSV-2 hanya menyebabkan
herpes genital.

Saat ini, tidak ada obat untuk herpes genital atau pun oral. Kedua kondisi itu lebih rentan muncul atau kambuh selama masa stres atau ketika sistem kekebalan tubuh terganggu. Pengobatan hanya bisa digunakan untuk mengontrol gejalanya.

Chlamydia
Chlamydia dapat terlihat di mata ('pink eye') dan berisiko menyebabkan kebutaan. Chlamydia adalah infeksi bakteri yang disebabkan oleh bakteri Chlamydia trachomatis dan ditularkan lewat semua bentuk seks, termasuk oral. Sebanyak 2,3 juta orang Amerika diperkirakan terinfeksi Chlamydia.

Chlamydia lebih umum diderita oleh perempuan, dengan estimasi 70-80 persen penderitanya adalah kaum hawa. Akan tetapi, gejala penyakit menular seksual ini sering tidak disadari, sehingga Chlamydia diberi julukan 'silent epidemy'. Penyakit ini merupakan salah satu penyebab utama infertilitas pada perempuan muda.

Pada lelaki, gejalanya juga mungkin tidak terlihat, walaupun mereka cenderung lebih sering menunjukkan gejalanya. Chlamydia dapat menyebabkan rasa sakit saat buang air kecil, keluarnya cairan dari alat kelamin, nyeri atau radang di testis, dan pendarahan setelah berhubungan intim pada perempuan. Perawatan dapat dilakukan menggunakan antibiotik.

Selain gejala klasik tersebut, Chlamydia juga bisa menginfeksi mata, yang kadang disebut dengan istilah 'pink eye' atau konjungtivitas. Infeksi Chlamydia di mata terutama disebabkan kontak seksual, khususnya dari menyentuh mata setelah menyentuh alat kelamin atau cairan genital individu yang terinfeksi. Bahkan, ejakulasi langsung ke mata dilaporkan dapat menyebabkkan infeksi Chlamydia pada mata. Yang terakhir, meskipun jarang, penularan dari mata ke mata (misalnya melalui maskara pada perempuan) juga telah diamati.[jekethek]

Text Widget

Text Widget