Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.

Selasa, 09 Maret 2010

Mengapa Wanita Tertarik pada Pria yang Sudah Berpasangan

Barbara De Angelis, Ph.D, pakar hubungan, mengungkapkan dalam bukunya, Ask Barbara, ada beberapa alasan mengapa Anda tertarik dengan pasangan yang tidak bisa dimiliki. Berikut paparan Barbara.

Merasa ditinggalkan salah seorang orangtua saat kecil
Sejak kecil Anda merasa tidak pernah mendapat dukungan dari orang terdekat sehingga ketika dewasa Anda mengulangi pola ini lagi dengan cara mencari pasangan yang tidak bisa mendukung Anda sepenuhnya juga.

Tidak percaya diri
Bisa jadi karena berasal dari keluarga yang sangat berantakan, atau selalu dikritik, diabaikan, dan dilecehkan, ketika dewasa Anda mungkin merasa tidak berhak mendapatkan seorang pasangan yang baik. Anda tidak pernah percaya bahwa orang baik-baik akan memilih Anda sebagai pasangan hidupnya.

Anda takut pada keintiman
Terlibat dalam suatu hubungan dengan seseorang yang tidak bisa mencintai Anda sepenuhnya merupakan cara yang tepat untuk menghindari keintiman. Mungkin ini dilatarbelakangi oleh pengalaman masa kecil Anda yang tidak menyenangkan. Akibatnya, Anda menemukan zona nyaman dengan memilih pasangan-pasangan yang tidak memungkinkan Anda membangun komitmen.

Anda bisa keluar dari jeratan cinta ini kalau mau memilih meninggalkan si Mr Right, Wrong Time. Sampai Anda bisa terbebas dari pola ini secara emosional, sebaiknya mencoba puasa hubungan untuk sementara waktu. Tidak berkencan dan tidak berhubungan secara intim dengan pria, apa pun bentuknya. Ini akan membuat Anda kuat, menyembuhkan kehampaan, dan bisa berpikir jernih tentang pasangan yang Anda butuhkan dalam kehidupan sekarang dan masa mendatang.

(Ika Nurul Syifaa/Majalah Chic)

Senin, 08 Maret 2010

Menggunakan "Parental Control Software" untuk Anak

Sejak ditemukan pada tahun 1960-an, teknologi internet memberi akses informasi luas bagi setiap umat manusia. Hal ini tentu memberi dampak yang positif, karena pertukaran informasi dari segala penjuru dunia baik itu berupa tulisan atau gambar bisa dilakukan dalam sekejap. Cakrawala pengetahuan pun makin bertambah luas.

Namun, saking luasnya informasi yang bisa didapat, tak jarang kehadiran internet justru memberi dampak yang negatif dengan semua tampilannya, apalagi bagi anak-anak di bawah umur. Barangkali inilah salah satu ketakutan paling besar dari para orangtua dan guru untuk mndukung anak-anak menyambungkan diri ke internet.

Situs-situs yang mengandung unsur pornografi, kekerasan, obat-obatan, alkohol, perjudian, serta penggunaan senjata adalah sesuatu yang harus dihindari oleh anak-anak. Untuk itulah pengawasan perlu dilakukan. Jika Anda menggunakan Microsoft Internet Explorer, Anda bisamenggunakan fasilitas internet option yang ada di dalamnya untuk mencegah akses ke situs yang berdampak negatif bagi anak. Atau dengan memasang parental control software di dalam komputer.

Parental control software adalah perangkat lunak yang memungkinkan orangtua memonitor aktivitas anak-anak pada komputer. Bahkan perangkat lunak ini bisa digunakan untuk membatasi informasi macam apa yang boleh dan tidak boleh untuk diakses sesuai dengan pilihan Anda. Dengan pembatasan diri ini, kekhawatiran akan dampak buruk internet pada anak, bisa dihindari.

Untuk mendapatkan perangkat lunak ini pun tak terlampau rumit, semua tergantung dari kemampuan kocek dan fitur tambahan apa saja yang ada dalam parental control software itu, karena kini program sejenis dengan mudah bisa ditemui dengan kelebihannya masing-masing.

Anda bisa mendapatkannya dengan download di internet yang biasanya tersedia dalam empat versi, yaitu retail, demo (versi demonstrasi dari software yang sebenarnya), shareware (pemakai dipersilakan memakai program secara gratis selama masih dalam batas waktu pemakaian), dan freeware (perangkat lunak yang didistribusikan secara gratis oleh si pembuatnya). Situs-situs yang menyediakan parental control software ini misalnya, www.we-blocker.com, www.chibrow.com. atau www.webkeys.com.

Sampai sekarang parental control software adalah satu langkah yang dinilai efektif dalam membatasi akses ke situs internet yang dianggap negatif. Di negara Barat sendiri, konon aturan aturan untuk menggunakan software ini sangat ketat. Akan tetapi, bimbingan dan pengarahan dari orangtua tetap penting untuk membatasi hal buruk dari dunia yang tidak terbatas ini.

Sumber: Kompas Klasika

Berbagai Risiko Pacaran di Usia Belia

Sebagai remaja, putra atau putri Anda tentu ingin merasakan indahnya masa pacaran. Pada masa itu, yang mereka lihat dan rasakan hanya yang indah-indah saja. Mereka belum mampu mengendalikan perasaannya sehingga ketika ada sesuatu yang tak beres menimpa dirinya, ia tak mau percaya bahwa dirinya telah menjadi korban.

Sebagai orangtua, sebaiknya orangtua lebih banyak berdialog dengan si ABG tentang berbagai resiko pacaran. Anda bisa memberikan peringatan apabila anak mengenal sang pacar dari dunia maya atau yang bukan dari lingkungan pergaulannya sehari-hari. Dengan sering berdialog, baik anak maupun orangtua bisa lebih bijak menanggapi situasi jika mendapati si ABG berada dalam kesulitan.

Kepada anak, berikan penjelasan bahwa inilah yang mungkin akan ia hadapi:


1. Kehamilan dan penularan penyakit menular seksual
Anak yang berpacaran di usia dini mengarah pada kemungkinan yang lebih besar untuk melakukan hubungan seksual. Hal itu sangat memungkinkan terjadinya kehamilan dan penularan penyakit menular seksual (PMS). Menurut The Centers for Disease Control (CDC), kelompok remaja dan dewasa muda (15-24 tahun) adalah kelompok umur yang memiliki risiko paling tinggi untuk tertular PMS.

2. Kekerasan fisik
Koalisi Antikekerasan di Alabama menyebutkan bahwa satu dari tiga anak mengalami kekerasan fisik selama pacaran usia dini. Bentuknya seperti mendorong, memukul, mencekik, dan membunuh. Kejahatan tersebut sangat tertutup karena pihak korban ataupun pelaku tidak mengakui adanya masalah selama hubungan kencan. Penyebab kekerasan fisik pada remaja di antaranya kecemburuan, sifat posesif, dan temperamen dari pasangan si anak remaja. Pelaku, misalnya, mengontrol cara berpakaian si anak. Hal itu sebenarnya adalah bentuk kekerasan, yang sering kali dilihat oleh si anak sebagai bentuk perhatian.

3. Kekerasan seksual
Pemerkosaan dalam pacaran adalah bentuk kekerasan seksual dalam pacaran. Komisi Nasional Antikekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) Indonesia mengategorikan kekerasan jenis itu sebagai kekerasan dalam pacaran (KDP). KDP secara seksual terjadi ketika seseorang diserang secara seksual oleh orang lain yang dikenal dan dipercaya, seperti teman kencan. Kekerasan seksual dapat juga terjadi saat korban mabuk di suatu pesta, misalnya. Pesta menjadi ajang yang paling mudah bagi pelaku untuk mengincar remaja dengan lebih dahulu memberikan narkoba, kemudian menjadikannya korban kekerasan seksual.

4. Predator internet
Predator internet biasanya orang dewasa yang menampilkan dirinya sebagai remaja di internet dengan mengubah statusnya. Mereka berusaha manarik perhatian remaja pengguna internet. Mereka adalah pelaku seksual yang sering kali menjanjikan hadiah, mengundang remaja ke pesta-pesta supaya target bersedia berhubungan dengannya. Predator internet ini biasanya menggunakan sarana chatting dalam menjaring target. Situs jejaring sosial seperti Facebook menjadi alat ampuh. Pelaku menampilkan diri dengan meyakinkan, misalkan dengan foto atau profil yang seakan-akan masih remaja.


Sumber: LiveStrong

Tanda-tanda Anak Korban Bullying

Tak sedikit anak yang bercerita kepada orangtuanya bahwa mereka mengalami tindak kekerasan (bullying) di sekolah. Namun, menurut Ken Rigby dalam buku Children and Bullying, setidaknya 50 persen anak laki-laki dan 35 persen anak perempuan yang telah di-bully, tutup mulut dan tidak melaporkan kepada orangtuanya.

Karena itu, Rigby meminta orangtua agar lebih memperhatikan anak-anaknya. Orangtua selayaknya curiga bila melihat tanda-tanda yang menunjukkan anaknya kemungkinan mendapat kekerasan di sekolah.

"Tanda-tanda ini hanya panduan. Namun, semakin banyak tanda yang muncul, semakin besar kemungkinan anak Anda mengalami bullying," tulis Rigby.

Ia merinci tanda-tanda yang bisa diamati pada anak yang mengalami bullying.

Fisik
- Muncul lebam, tergores, atau luka yang tak bisa dijelaskan.
- Baju dan barang bawaan robek atau rusak.

Psikosomatis
- Nyeri yang tidak spesifik, sakit kepala, sakit perut, atau muncul sariawan.

Perilaku Terkait Sekolah
- Rasa takut saat berangkat atau pulang sekolah.
- Perubahan rute ke sekolah.
- Takut naik bus atau angkutan umum.
- Minta diantarkan ke sekolah.
- Tidak mau sekolah atau kehilangan gairah belajar.
- Pelajaran dan tugas sekolah mulai merosot.
- Sepulang sekolah anak kelaparan karena uang jajan dipalak atau diminta secara paksa oleh orang lain.
- Minta uang tambahan atau mencuri uang untuk diberikan kepada pem-bully.

Perubahan Dalam Perilaku Sosial
- Jumlah teman berkurang.
- Tidak ingin keluar rumah.
- Jarang diundang teman untuk datang ke rumah mereka.

Indikator Emosional
- Terlihat kesal, mudah marah, tidak bahagia, sendirian, mudah menangis, tertekan, memisahkan diri dari lingkungan, dan depresi.
- Berpikir untuk bunuh diri dan perubahan suasana hati atau mood yang negatif.

Terjadi Perubahan Perilaku yang Mengkhawatirkan
- Susah makan atau malah terlalu banyak makan.
- Sulit tidur, mimpi buruk, mengompol, menangis saat tidur.

Indikator Kesehatan yang Memburuk
- Mudah lelah atau melorot kondisi fisiknya.
- Menjadi rentan terhadap infeksi dan mudah kambuh penyakitnya.
- Mengancam atau ingin bunuh diri.

(dee/Tabloid Gaya Hidup Sehat)

Waspada Bullying Anak di Dunia Maya

Robin M. Kowalski, Ph. D, dan Patricia W. Agatston, Ph.D, dalam buku Cyber Bullying menjelaskan bahwa bullying bisa juga terjadi melalui dunia maya. Kowalski, Limber, dan Agatston memaparkan sejumlah metode yang bisa digunakan untuk cyber bullying dalam berbagai teknologi komunikasi yang berkembang saat ini.

Chatting
Para remaja dan anak masa kini pasti suka chatting. Ngobrol di dunia maya ini memungkinkan terjadinya komunikasi secara real time.

Pem-bully dapat mengirimkan pesan bernada ancaman atau marah-marah kepada target. Pem-bully juga bisa menggunakan identitas korban untuk berkomunikasi dengan orang lain dan menyebarkan pesan bernada ancaman pula.

Surat Elektronik
Merupakan metode paling sering yang digunakan untuk cyber bullying. Melalui surat elektronik (surel), seseorang dapat mengirimkan pesan menjelek-jelekkan kepada ratusan, bahkan ribuan orang dengan hanya memencet satu tuts saja. Seseorang yang ingin mempermalukan target bisa mengirimkan gambar atau informasi lain tentang seseorang ke ratusan atau ribuan orang dalam waktu bersamaan.

Meski surel mudah ditelusuri, tak ada yang bisa memastikan kalau seseorang dengan identitas itulah yang benar-benar mengirimkannya. Bisa jadi orang lain dengan mudah masuk ke identitas surel itu karena tahu kata kuncinya.

Pesan Singkat
Penggunaan pesan singkat melalui telepon seluler pada anak remaja sungguh menakjubkan. Mereka bisa dengan cepat mengetik pesan untuk dikirimkan kepada orang lain. Sayangnya, pesan singkat ini kadang digunakan dengan tidak tepat, untuk memberi contekan kepada teman lain ketika sedang ujian, misalnya. Di sisi lain, pesan singkat juga dapat digunakan sebagai alat cyber bullying.

Jejaring Sosial
Friendster, Facebook, Myspace, atau Twitter dapat menjadi jalur cyber bullying. Dalam Facebook misalnya, seseorang bisa mengetahui ia berteman dengan siapa, berhubungan dengan siapa, serta memungkinkan seseorang memberi komentar atas orang tersebut. Pem-bully bisa saja berkomentar jelek atau menjelek-jelekkan orang lain.

Blog
Jurnal online ini bisa juga digunakan untuk cyber bully. Seorang remaja dapat menggunakan blog untuk merusak reputasi atau menyerbu privasi remaja lain. Contohnya, remaja yang baru putus pacaran bisa menuliskan informasi memalukan tentang mantan pacarnya.

Selain blog, situs maupun games di internet dapat pula dijadikan alat untuk melakukan cyber bullying.

(dee/Tabloid Gaya Hidup Sehat)

Jangan Biarkan Anak Mencari Perhatian di Facebook

Siapa tak kenal Facebook? Situs jejaring sosial tersebut telah menarik minat 1.333.649 user di Indonesia pada 2009, sehingga menjadikan Indonesia sebagai negara pengguna Facebook nomor satu di Asia Tenggara, dan nomor tujuh di dunia. Pesona Facebook yang menyediakan sederet fitur yang memungkinkan penggunanya berinteraksi langsung seperti chatting, tagging foto, blogging, dan bermain games itu, mampu menarik rasa penasaran orangtua, remaja, hingga anak-anak.

Sari, misalnya. Gadis kecil, yang masih duduk di kelas VI SD ini, selalu menyempatkan diri membuka aplikasi Facebook melalui ponsel kakaknya. Sebelum berangkat sekolah, Sari tak mau ketinggalan meng-update status di Facebook.

Jika tak ada ponsel beraplikasi Facebook, atau komputer berakses internet di rumah, anak-anak seperti Sari selalu menyempatkan diri mengunjungi warung internet sepulang sekolah. Begitu pula Aida (10). Karena tak punya akses internet di rumahnya, hampir setiap hari Aida pergi ke warnet untuk melihat notifikasi pada Facebook-nya.

"Atau main Farmville. Abis makan, minta duit, main," ujar Aida yang ditemui Kompas.com pada Jumat (19/2/2010).

Boleh dibilang hampir setiap hari Sari dan kawan-kawannya berusaha terus terakses dengan situs pertemanan dunia maya tersebut. Jika demikian kondisinya, apa pengaruhnya pada kehidupan sosial anak?

Psikolog anak Universitas Indonesia, Mayke S. Tedjasaputra, saat dihubungi Kompas.com hari Kamis (18/2/2010) berpendapat, penggunaan Facebook oleh anak usia dini seperti usia sekolah dasar dapat memperkenalkan perilaku negatif tertentu kepada anak. Hal tersebut dikarenakan, menurut Mayke, dengan Facebook anak dapat melacak kemana pun, mengenal siapa pun yang tidak pernah mereka lihat rupanya atau ekspresinya. Sehingga, anak-anak mudah ditipu melalui Facebook.

"Mereka bisa berkenalan dengan seseorang yang memanfaatkan mereka, mengajarkan hal-hal yang mengagumkan sampai anak-anak terkesima, mengajarkan perilaku tertentu, hingga yang negatif, seperti ajakan berhubungan intim," katanya.

Apalagi sebagai anak, kata Mayke, Sari atau Aida belum dapat memilah kepada siapa harus berteman di Facebook, dan kepada siapa tidak harus berteman. "Semua kembali kepada komunikasi orangtua dan anak. Keluarga adalah perisai utama di rumah. Lingkungan bisa memberi pengaruh apa saja pada anak," paparnya.

Dikatakan Mayke, orangtua memang tidak dapat mencegah penggunaan Facebook oleh anak. Namun, lanjutnya, orangtua dapat memberikan perhatian lebih kepada anak-anaknya agar sang anak tidak mencari perhatian orang lain di dunia maya.

"Kalau orangtua tidak memberi perhatian kepada anaknya, anak bisa mencari perhatian dari dunia luar. Bisa saja terjadi seperti NT (Nova, remaja yang diduga lari dengan teman Facebook-nya) yang berkenalan dengan teman Facebook," imbuh Mayke.

Perhatian pada anak, serta komunikasi yang terlain lancar antara orangtua dan anak, dapat menjadi perisai utama menghadang terpaan dampak negatif Facebook pada anak.

sumber : inilah.com

Jika Si Kecil Suka Menggigit dan Memukul

Banyak orangtua yang mengatakan bahwa mengasuh anak perempuan lebih sulit daripada mengasuh anak laki-laki. Hal ini sedikit banyak ada benarnya. Anak perempuan yang sangat aktif dan emosional lebih sulit ”dikendalikan” ketimbang anak laki-laki dengan karakter yang sama. Aktifnya anak perempuan ditandai dengan ciri-ciri tidak bisa diam di satu tempat, cepat penasaran dan mencari jawabannya, tidak menerima masukan dari orang lain, sensitif, suka berteriak (marah), dan melakukan kekerasan fisik yang belum mereka sadari secara langsung.

”Mereka tidak sadar kalau perbuatannya bisa melukai dan menyakiti orang lain,” ujar Dr Michael H Popkin, PhD, pendiri Active Parenting Publishers. Ia juga mengatakan bahwa keadaan seperti itu (marah, memukul, dan menggigit) adalah cara yang primitif dalam menghadapi rasa frustrasi.

Sebagai orangtua, Anda bertugas untuk menenangkan dan memberikan masukan kepada anak agar tidak menyakiti orang lain. Dengan demikian, anak bisa mengendalikan amarahnya dan mampu mengurangi hal-hal negatif yang berhubungan dengan kekerasan fisik.

Anak-anak yang pemarah harus dihadapi saat mereka sudah tenang. Jika Anda berusaha menenangkannya saat mereka tengah marah, mereka tidak akan mendengarkan Anda dan bahkan akan melawan.

Setelah mereka tenang, bicarakan baik-baik bahwa mengigit dan melakukan kekerasan tidak baik dilakukan oleh anak perempuan. Konsekuensinya, ia akan ditinggalkan oleh teman-temannya.

Kalaupun ia menolak dan tetap melakukan yang sama, coba alihkan untuk memukul bantal atau boneka. Jika ia tetap melawan, memukul, dan menggigit, jangan ragu untuk memberikan hukuman. Misalnya, memasukkannya dalam kamar yang sepi hanya berdua dan katakan, misalnya, ”Menggigit dan memukul bukan dilakukan oleh manusia. Hanya hewan saja yang menggigit”.

Setelah amarahnya reda, ajak ia untuk melakukan aktivitas yang ia sukai dan mulailah menjelaskan perbuatannya yang buruk. Lakukan berulang hingga ia paham dan mau berubah.


Sumber: ParentsConnect

Text Widget

Text Widget